|
|
Manusia Kanekes
Pertanyaan ini diajukan kepada khalayak, komunitas Save Baduy untuk mendapatkan gambaran tentang bangun/konsep pelestarian Baduy dari berbagai sudut pandang. Saya mengharapkan respon yang konstruktif, baik hanya berupa komen atau tulisan yang lebih mendalam.
Saya ingin mengkontraskan dua contoh persoalan tentang pelestarian Baduy ini. Pertama, pelestarian wilayah Baduy dan kedua pelestarian Budaya Baduy.
Ketika kita berbicara pelestarian wilayah, maka objek yang kita bicarakan berada dalam lingkup yang mudah ditentukan batas-batasnya. Wilayah yang dimaksud adalah Desa Kanekes di Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak Propinsi Banten. Batas-batas geografi wilayah Desa Kanekes sebagaimana dirujuk oleh Surat Keputusan Bupati Lebak No. 590/kep.233/Huk/2002 tentang Penetapan Batas-batas Detail Hak Ulayat Masyarakat Adat Baduy di Desa Kenekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak tertanggal 16 Juli 2002. Dalam hal wilayah geografi ini, kita akan mudah bersepakat tentang apa yang dilestarikan.
Namun, ketika kita berbicara tentang pelestarian budaya Baduy, maka spektrum pembicaraan menjadi meluas. Budaya mana yang kita lestarikan? Mari mengambil beberapa contoh saja dari beragam aspek budaya ini. Lifestyle masyarakat Baduy misalnya. Cara hidup yang dipilih oleh orang Baduy seperti tampak pada saat ini dalam kehidupan mereka sehari-hari secara ajeg telah berlangsung selama ratusan tahun, dari abad ke abad, sejak jaman pertama kali mereka terekam sejarah. Tak banyak yang berubah, dari mulai bagaimana cara mereka menanam padi hingga cara mereka menolak hal-hal yang datang dari luar yang boleh jadi kita menyebutnya sebagai kemodernan, kemajuan peradaban.
Baduy menolak untuk merubah teknologi pertanian mereka. Mereka tidak akan merubah Huma, ladang padi, menjadi petak-petak sawah yang beririgasi. Mereka tidak akan pernah menggunakan bahan kimia seperti pupuk dan pestisida. Sampai saat ini masyarakat Baduy masih melaksanakan kegiatan menanam padi ini dengan sistem yang disebut oleh Prof. Johan Iskandar dengan istilah Swidden Farming atau Slash and Burn. Dalam bahasa setempat, ngahuma. Apakah ‘teknologi pertanian’ ala Baduy seperti ini dapat kita masukan ke dalam ceklis yang patut dilestarikan?
Baduy pun menolak menyelenggarakan pendidikan formal (sekolah) bagi anak-anaknya, dengan tidak mengijinkan berdirinya bangunan sekolah di dalam wilayah adat. Akan tetapi, dalam hal yang satu ini ada yang perlu diketahui oleh masyarakat luas tentang pernyataan Ayah Mursyid, bahwa kokolot Adat membebaskan warganya secara individu untuk memperoleh pengetahuan/keterampilan untuk keperluan pribadinya sesuai tuntutan jaman ataupun bersekolah formal di luar Baduy (Asep Kurnia, 2010.)
Apabila pada saatnya nanti anak-anak Baduy bersekolah, bisa dibayangkan betapa mereka di pagi yang dingin berembun harus berjalan kaki melintasi bukit-bukit pegunungan Kendeng berkilometer jauhnya ke luar batas Desa mereka untuk bersekolah? Mengapa? Lagi-lagi karena di Baduy tidak boleh ada kendaraan meski hanya sepeda gunung. Sepanjang tahun, Baduy memang adalah wilayah car-free day.
Agar bahasan kita tidak berpanjang-panjang, ini sajalah dulu yang dapat dilemparkan ke khalayak. Tentunya masih diperlukan berjilid-jilid halaman untuk membicarakan semua hal tentang pelestarian Baduy. Nah, kembali kepada pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini, Melestarikan Baduy, apakah membiarkan anak-anak Baduy tidak bersekolah?
Manusia Kanekes
Membaca buku “Saatnya Baduy Bicara” yang baru saja diluncurkan bulan ini, Oktober 2010, saya mendapat kesan yang luar biasa tentang paradigma ‘berpikir’ para pemimpin, yang lebih di kenal dengan sebutan Jaro dan pemimpin puncaknya ‘Puun.’ Pak Asep Kurnia, penulis buku ini, sanggup dengan bahasa yang mengalir, enak dibaca, menyuguhkan bagaimana ’strategi budaya’ para pemimpin Baduy dalam menghadapi dinamika perubahan sosial baik di luar, ataupun di dalam masyarakat Baduy itu sendiri. Banyak sekali percakapan-percakapan dipaparkan dalam bahasa aslinya (Sunda.) Dengan demikian, bagi pembaca lokal yang memahami bahasa ‘ibu’ Sunda dialek Banten, paparan ini lebih membantu memahami ’situasi batin’ kegelisahan para Jaro. Meskipun, barangkali teks bahasanya sudah mengalami pengeditan oleh Pak Asep Kurnia sendiri, sehingga bercampur dengan dialek ‘Sukabumi‘ atau bahasa Sundanya lebih ‘nyakola.’ (Pak Asep, asli Sukabumi yang sudah puluhan tahun berada dilingkungan Baduy, sebagai guru di Leuwidamar, kecamatan tempat Baduy berada, Kabupaten Lebak Banten.)
Paradigma seperti apa? Masyarakat Baduy menyambut perubahan jaman dengan mempersilahkan warganya memperoleh pendidikan. Inilah catatan yang luar biasa. Meski dalam buku itu disebutkan angka 90% anak-anak Baduy tidak mengikuti sekolah formal, telah banyak usaha-usaha yang dilalukan warga Baduy yang dimotori oleh ‘pejuang-pejuang’ Baduy dari luar Baduy, agar mereka bisa membaca. Ijin sekolah inipun tentunya dengan catatan, selama tidak melanggar aturan adat. Nah, ini dia, yang menjadi peer para stakeholder Banten untuk menemukan metoda yang tepat dalam mendekati ‘Baduy.’ Penulis buku ini sangat yakin bahwa masyarakat Baduy juga ‘berkeinginan’ bisa seperti saudara-saudara mereka yang lainya, bisa membaca. Pak Asep seperti membukakan pintu, silahkan masuk dan jangan lupa anda sedang bertamu di rumah orang, ikuti tata-krama di rumah ini. Bisa jadi sekolah di Baduy tidaklah sama dengan sekolah di Leuwidamar (luar Baduy,) namun mereka mendapatkan pengetahuan yang perlu bagi kehidupan masyarakatnya dengan tanpa ‘melanggar’ adat.
Saya tidak bermaksud sedang meresensi buku ‘Saatnya Baduy Bicara’ ini, namun ingin mengabarkan pula kepada khalayak karena kegembiraan saya menyambut karya tentang Baduy. Buku setebal 294 halaman ini menambah khasanah literatur tentang Baduy. Baduy memang seperti gadis cantik pemalu, yang mengurung diri di kamar. Sehingga banyaklah yang datang untuk ‘memuaskan’ rasa penasaran, secantik apakah gerangan gadis ini, siapakah dia?
Inti jagat memang penuh misteri sejak dahulu dan akan tetap menjadi misteri. Mengapa kita bertanya dan mempermasalahkan siapa, darimana orang Baduy itu? Lihatlah, dengan kesahajaannya para pemimpin Baduy sudah membuktikan selama berabad-abad, sejak sebelum kerajaan Salakanagara, melewati Pajajaran, Tarumanagara, Kesultanan Banten, Kolonial Belanda dan saat ini di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indoneisa, bahwa dengan ‘Pikukuh’ mereka sanggup membawa rakyatnya melayari sejarah tanpa konflik yang vulgar, tanpa kekerasan, apalagi pembunuhan, penghilangan nyawa, dan tentu saja tanpa korupsi. Bapak Imam Prasojo selayaknya memberi saran kepada para wakil rakyat di Senanyan, agar mereka tak perlu jauh-jauh belajar etika ke Yunani. Mampirlah di Baduy, Desa Kanekes, Banten, Indonesia.

Kembali ke buku kita ‘Saatnya Baduy Bicara.’ Maka mari, inipun adalah ‘Saatnya Bicara Baduy.’ Tanpa Kitab Agama, kita disuguhi pelajaran hidup tentang bagaimana manusia belajar dalam harmoni dengan alam dan sesamanya. Membaca buku ini, seperti pergi Saba Budaya Baduy, tapi sebelumnya kita mampir dulu ke kantor gubernur, kantor bupati dan kantor Kecamatan disuguhi data-data, angka-angka tentang jumlah posyandu, angka melek huruf, demografi penduduk dan data statistik lainya. Data ini up-to-date dan tentunya sangat bermanfaat sekali, terutama bagi mahasiswa sosiologi atau kependudukan atau pemerintahan yang tengah mencari bahan untuk skripsi. Jangan lupa, meski masyarakat Baduy ‘tidak bersekolah’ namun mereka sudah melahirkan sarjana-sarjana, S1, S2, S3 baik lokal atau pun global. Banyak disertasi doktor tentang Baduy. Dan satu lagi, Baduylah pula yang melahirkan kesarjanaan salah satu penulis buku ini, Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si (beliau Dekan FISIP Untirta Serang.) Anda percaya?
Begitulah, masih banyak misteri Baduy yang bisa kita ceritakan. Saatnya Bicara Baduy.
Lingkungan
Hari ini Indonesia menangis kembali karena musibah yang menimpa hampir seluruh kota Wasior, Papua Barat.Sampai hari Jumat (08/10/2010) diberitakan di media elektronik jumlah meninggal telah terhitung lebih dari seratus orang. Betapa mengenaskan melihat gambar yang ditayangkan televisi, air bah yang tanpa ampun menggilas apapun yang menghadang. Lebih dari 4.500 warga mengusi ke kota-kota terdekat.
Begitulah, kita semua diingatkan alam agar selalu bersikap bersahabat dengannya dengan tidak semena-mena merusak dan membabat pohon-pohon yang ada di hutan. Begitulah pula, Adat Kanekes yang turun-temurun berabad-abad dipegang teguh oleh seluruh rakyat Kanekes, melarang perusakan hutan. “Gunung ulah dilebur, Lebak ulah dirusak.” Tabu yang satu ini menggema di hati yang paling dalam pada setiap dada Manusia Kanekes, yang lugu tidak bisa baca tulis. Mereka melaksanakan titah itu dengan baik tanpa bertanya mengapa.
Apapun penyebab antara bencana banjir, longsor dan air bah tentunya harus sanggup menyadarkan kita semua betapa keserakahan kita ataukah kedunguan kita yang kita biarkan merayapi hati kita masing-masing? Meskipun kita merasa diri lebih beradab dari Manusia Kanekes hanya karena kita bisa membaca dan menulis, tak perlu malu kita belajar dari Manusia Kanekes tentang kearifan agar kita tidak merusak alam kita sendiri tempat kita berpijak dan menghidupi diri.
 Bermain -- Anak-anak Kanekes
Lingkungan
Banyak orang yang datang maupun yang hanya mendengar tentang Baduy atau Kanekes tentu sudah tahu bahwa orang Kanekes, Tangtu (Baduy Dalam) khususnya, sangat menjaga teguh adat mereka. Tahukah anda bahwa yang mereka jaga bukan hanya adat, melainkan juga kemurnian darah dan segala keaslian aspek hidup mereka.
Coba simak hal berikut:
Urang Tangtu selalu menikah dengan sesama Urang Tangtu. Yaitu mereka yang tinggal di 3 kampung dalam (Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik). Bila salah satu dari mereka menikah dengan orang dari Panamping (Baduy Luar) maka Urang Tangtu itu harus keluar dari kampung Baduy Dalam. Walaupun yang Tangtu adalah lelakinya. Dengan begitu darah Tangtu tidak akan bisa dimasuki darah Panamping, apalagi yang bukan Urang Kanekes.
Maka di Baduy banyak perkawinan yang masih terlalu dekat ikatan kekeluargaannya. Beberapa keturunan mereka menanggung akibat perkawinan sedarah itu; badan kerdil, daya tahan tubuh lemah, bahkan beberapa tidak berketurunan. Untuk penjelasan medisnya saya tidak bisa menguraikannya, karena saya bukan ahlinya.
Pohon singkong, pohon albasia, dan beberapa pohon tidak dibolehkan ditanam di Baduy Dalam. Karena pohon-pohon itu bukan asli tanaman yang ada sejak dulu. Apabila pohon tersebut tumbuh tanpa sengaja ditanam, maka orang Tangtu akan mencabutnya. Kalau tidak salah, bahkan ada petugas pengawas tanaman dari “Baresan Salapan” atau penegak adat di bawah Puun yang selalu mengoperasi tanaman-tanaman di 3 kampung Tangtu itu.
Darah dan tanaman dari luar saja tidak diperbolehkan masuk, apalagi benda-benda ciptaan manusia yang tidak menyatu dengan alam Tangtu, misalnya radio.
Suatu hari saya bertemu seorang kawan dari kampung Cibeo yang tiba-tiba saya temui di kampung luar dengan pakaian jamang kampret dan ikat kepala hitam. Lho, bukannya orang Tangtu memakai baju pangsi dan ikat kepala putih? Ah, ternyata dia memang sudah keluar dari Baduy Dalam, tepatnya dikeluarkan, karena melangar adat, yaitu menjual rumahnya. Menjual padi juga merupakan pelanggaran. Untuk dua hal diatas, pengetahuan saya masih samar-samar. Saya belum tahu persis alasannya mengapa dua hal tersebut dilarang.
Pesona Tangtu adalah keasliannya. Saya tidak berniat untuk bertanya mengapa-ini-itu-tidak-boleh. Saya bersyukur selalu diterima dengan baik dan ramah di kampung Baduy Dalam. Lagi pula, saya selalu senang menatap wajah-wajah ramah orang Tangtu. Kulit para gadisnya yang putih merona, selalu tersipu-sipu jika bertemu orang. Tatapan teduh para lelakinya, dan senyum kecil tertahan yang selalu membuat saya merasa aman berjalan beriringan dengan mereka, di tengah hutan sekalipun.
 Bermain di Halaman
Manusia Kanekes
PANJANG TAK BOLEH DIPOTONG, PENDEK TAK BOLEH DISAMBUNG
Mudah sekali mengartikan petuah di atas. Hiduplah apa adanya.
Itulah yang dari dulu, dan sampai saat ini masih dipegang erat oleh sekelompok masyarakat di daerah Banten Selatan. Mereka adalah warga Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Atau lebih mudah kebanyakan orang menyebut mereka Orang Baduy.
Tahun 1997 adalah interaksi pertama saya dengan mereka. Pak Utun Leman Kartakusuma, fotografer harian Suara Pembaruan (Sinar Harapan) dan Don Hasman, fotografer tabloid Mutiara yang pertama kali mengenalkan saya pada Urang Kanekes.
Dari pertama kali saya bertemu dan merasakan kehidupan Urang Kanekes, terutama Urang Tangtu (Baduy Dalam), saya sudah merasakan kehidupan yang begitu bersatu bersenyawa dengan alam. Mereka hidup untuk menjaga alam, bukan sekedar memanfaatkan apalagi menguras apa yang alam punya.
Ciri paling menonjol dari mereka adalah pakaian mereka yang hanya terdiri atas baju pangsi putih atau hitam, sarung aros hitam, dan ikat kepala putih, serta tanpa alas kaki. Kerap mereka menyandang kantong kain, tas jaro atau koja dari bahan kulit kayu saat mereka bepergian. Mereka selalu bepergian dengan berjalan kaki. Pantang bagi mereka untuk naik kendaraan. Mereka membiarkan kulit kaki mereka merasakan keras, basah, dingin, dan panasnya tanah yang menghidupi mereka.
Masuk ke perkampungan Baduy Dalam ( Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik) adalah masuk ke tempat penuh kedamaian. Kampung yang tertata natural, tenang, dan bersih. Rumah-rumah mereka adalah rumah panggung bermaterial bambu dan kayu beratap rumbia. Mereka bukan memakai paku, melainkan hanya pasak dan tali untuk menyatukan tiang dan dinding. Dan kontur tanah tempat rumah itu berdiri semuanya utuh. Bila kebetulan sebuah rumah harus berdiri di tanah yang tidak rata, maka bukan tanahnya yang mereka cangkuli untuk diratakan, tapi tiang panggungnya yang dibuat tinggi pendek menyesuaikan kontur tanah aslinya.
Untuk hidup mereka bertani. Menanam padi ladang dengan cara yang sangat sederhana. Tanpa mencangkul ataupun memupuk. Mereka hanya mempersiapkan lahan dengan cara membersihkan, membakar rumput, mengistirahatkan, dan menabur bibit padi begitu saja. Tanah yang mereka perlakukan dengan sangat lembut itu memang selalu memberikan hasil yang cukup. Orang Baduy tidak pernah kekurangan padi untuk makan mereka sehari-hari.
Air untuk konsumsi dan sanitasi mereka ambil dari sungai, atau mata air yang mereka salurkan dengan batang-batang bambu. Sungai dan mata air di Baduy Dalam masih sangat bersih karena mereka tidak pernah mengotorinya dengan detergen dan bahan buatan pabrik. “Sabun” yang mereka pakai adalah Lerak, gigi mereka sikat dengan batang Honje (semacam lengkuas).
Saat malam datang, mereka menggunakan penerangan dengan lentera minyak kelapa, bukan minyak tanah. Nyatanya memang asap yang dihasilkan dari lentera minyak kelapa lebih sedikit dibanding lentera minyak tanah. Tidak ada barang elektronik di kampung itu. Senyap dan damai sangat terasa saat malam. Sayup-sayup musik hanya terdengar sesekali dari petikan lirih kecapi dan tiupan seruling. Enam bulan sekali baru ada musik yang sedikit hingar dari angklung buhun yang mereka keluarkan dan mainkan pada musim tanam padi.
Mengapa mereka hidup begitu bersahaja? Karena mereka yakin bahwa “panceur bumi” atau pusat bumi ada di tanah mereka, dan mereka diutus Tuhan Yang Maha Esa untuk menjaga keutuhan dan kelestarian tanah mereka untuk kelangsungan hidup orang banyak, bukan hanya yang tinggal di kampung itu saja. Hutan Larangan yang ada di tengah desa, pantang mereka tebang pohonnya. Jangankan tebang pohon, ambil kayu atau daunnya pun sama sekali tidak mereka lakukan. Di hutan itulah terdapat mata air sungai-sungai yang mengalir ke desa mereka, bahkan sampai ke luar desa. Keyakinan mereka telah menyelamatkan satu titik sumber kehidupan.
Anda bisa bayangkan seandainya lebih banyak kelompok masyarakat yang berkeyakinan dan berperilaku seperti mereka. Niscaya bumi ini akan semakin hijau.
Itu semua hanya sedikit dari sekian banyak perilaku hidup Urang Kanekes yang begitu menghargai alam, namun banyak sekali pelajaran yang sudah saya dapatkan. Mereka adalah guru saya untuk mencintai alam, guru saya untuk bagaimana saya memperlakukan alam, guru saya untuk tidak semena-mena terhadap alam yang mengidupi kita. Puluhan kali berkunjung ke sana tidak membuat saya bosan merasakan kedamaian hidup di tanah dan masyarakat yang begitu bersatu dengan alam. Berkunjung ke Kanekes adalah bercermin dan introspeksi diri, bagaimana saya sehari-hari berperilaku dan berhubungan dengan alam.
Lama sekali saya belum berkunjung kembali ke sana. Nanti saat anak-anak saya sudah mulai besar, saya akan ajak mereka merasakan tempat yang membuat bunda mereka merasakan damai bersatu dengan alam. Saya jatuh cinta pada tanah Kanekes.
|