Hari ini Indonesia menangis kembali karena musibah yang menimpa hampir seluruh kota Wasior, Papua Barat.Sampai hari Jumat (08/10/2010) diberitakan di media elektronik jumlah meninggal telah terhitung lebih dari seratus orang. Betapa mengenaskan melihat gambar yang ditayangkan televisi, air bah yang tanpa ampun menggilas apapun yang menghadang. Lebih dari 4.500 warga mengusi ke kota-kota terdekat.
Begitulah, kita semua diingatkan alam agar selalu bersikap bersahabat dengannya dengan tidak semena-mena merusak dan membabat pohon-pohon yang ada di hutan. Begitulah pula, Adat Kanekes yang turun-temurun berabad-abad dipegang teguh oleh seluruh rakyat Kanekes, melarang perusakan hutan. “Gunung ulah dilebur, Lebak ulah dirusak.” Tabu yang satu ini menggema di hati yang paling dalam pada setiap dada Manusia Kanekes, yang lugu tidak bisa baca tulis. Mereka melaksanakan titah itu dengan baik tanpa bertanya mengapa.
Apapun penyebab antara bencana banjir, longsor dan air bah tentunya harus sanggup menyadarkan kita semua betapa keserakahan kita ataukah kedunguan kita yang kita biarkan merayapi hati kita masing-masing? Meskipun kita merasa diri lebih beradab dari Manusia Kanekes hanya karena kita bisa membaca dan menulis, tak perlu malu kita belajar dari Manusia Kanekes tentang kearifan agar kita tidak merusak alam kita sendiri tempat kita berpijak dan menghidupi diri.
Related articles
- Flash Floods in Eastern Indonesia Kill at Least 26 (nytimes.com)


