<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kampung Baduy</title>
	<atom:link href="http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress</link>
	<description>Manusia, Hutan dan Kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 Jun 2011 22:42:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Baduy dan Sekolah Anak</title>
		<link>http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress/2011/06/172/</link>
		<comments>http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress/2011/06/172/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 22:41:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Luthfi Tubagus Rifki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manusia Kanekes]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan ini diajukan kepada khalayak, komunitas Save Baduy untuk mendapatkan gambaran tentang bangun/konsep pelestarian Baduy dari berbagai sudut pandang. Saya mengharapkan respon yang konstruktif, baik hanya berupa komen atau tulisan yang lebih mendalam. Saya ingin mengkontraskan dua contoh persoalan tentang pelestarian Baduy ini. Pertama, pelestarian wilayah Baduy dan kedua pelestarian Budaya Baduy. Ketika kita berbicara &#8230; <a class="read-excerpt" href="http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress/2011/06/172/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Pertanyaan ini diajukan kepada khalayak, komunitas <a title="Save Baduy on Facebook" href="http://www.facebook.com/pages/Save-Baduy/129588390407447" target="_blank"><strong></strong></a><strong><a title="Komunitas Save Baduy" href="http://savebaduy.or.id" target="_blank">Save Baduy</a></strong> untuk mendapatkan gambaran tentang bangun/konsep pelestarian Baduy dari  berbagai sudut pandang. Saya mengharapkan respon yang konstruktif, baik  hanya  berupa komen atau tulisan yang lebih mendalam.</p>
<p align="justify">Saya ingin mengkontraskan dua contoh persoalan  tentang pelestarian Baduy ini. Pertama, pelestarian wilayah Baduy dan  kedua pelestarian Budaya Baduy.</p>
<p align="justify">Ketika kita berbicara pelestarian wilayah, maka objek  yang kita bicarakan berada dalam lingkup yang mudah ditentukan  batas-batasnya. Wilayah yang dimaksud adalah Desa Kanekes di Kecamatan  Leuwidamar, Kabupaten Lebak  Propinsi Banten. Batas-batas geografi  wilayah Desa Kanekes sebagaimana dirujuk oleh Surat Keputusan Bupati  Lebak No. 590/kep.233/Huk/2002 tentang Penetapan Batas-batas Detail Hak  Ulayat Masyarakat Adat Baduy di Desa Kenekes Kecamatan  Leuwidamar  Kabupaten Lebak tertanggal 16 Juli 2002. Dalam hal wilayah geografi ini,  kita akan mudah bersepakat tentang apa yang dilestarikan.</p>
<p align="justify">Namun, ketika kita berbicara tentang pelestarian  budaya Baduy, maka spektrum pembicaraan menjadi meluas. Budaya mana yang  kita lestarikan? Mari mengambil beberapa contoh saja dari beragam aspek  budaya ini. Lifestyle  masyarakat Baduy misalnya. Cara hidup yang  dipilih oleh orang Baduy seperti tampak pada saat ini dalam kehidupan  mereka sehari-hari secara ajeg telah berlangsung selama ratusan tahun,  dari abad ke abad, sejak jaman pertama kali mereka  terekam sejarah. Tak  banyak yang berubah, dari mulai bagaimana cara mereka menanam padi  hingga cara mereka menolak hal-hal yang datang dari luar yang boleh jadi  kita menyebutnya sebagai kemodernan, kemajuan peradaban.</p>
<p align="justify">Baduy menolak untuk merubah teknologi pertanian  mereka. Mereka tidak akan merubah Huma, ladang padi, menjadi petak-petak  sawah yang beririgasi. Mereka tidak akan pernah menggunakan bahan kimia  seperti pupuk dan pestisida.  Sampai saat ini masyarakat Baduy masih  melaksanakan kegiatan menanam padi ini dengan sistem yang disebut oleh  Prof. Johan Iskandar dengan istilah <em>Swidden Farming</em> atau <em>Slash and Burn</em>. Dalam bahasa setempat, <em>ngahuma</em>.  Apakah &#8216;teknologi pertanian&#8217; ala Baduy seperti ini dapat kita masukan ke dalam ceklis yang patut dilestarikan?</p>
<p align="justify">Baduy pun menolak menyelenggarakan pendidikan formal  (sekolah) bagi anak-anaknya, dengan tidak mengijinkan berdirinya  bangunan sekolah di dalam wilayah adat. Akan tetapi, dalam hal yang satu  ini ada yang perlu diketahui  oleh masyarakat luas tentang pernyataan  Ayah Mursyid, bahwa kokolot Adat membebaskan warganya secara individu  untuk memperoleh pengetahuan/keterampilan untuk keperluan pribadinya  sesuai tuntutan jaman ataupun bersekolah formal di luar Baduy  (Asep  Kurnia, 2010.)</p>
<p align="justify">Apabila pada saatnya nanti anak-anak Baduy  bersekolah, bisa dibayangkan betapa mereka di pagi yang dingin berembun  harus berjalan kaki melintasi bukit-bukit pegunungan Kendeng  berkilometer jauhnya ke  luar batas Desa  mereka untuk bersekolah?  Mengapa? Lagi-lagi karena di Baduy tidak boleh ada kendaraan meski hanya  sepeda gunung. Sepanjang tahun, Baduy memang adalah wilayah car-free  day.</p>
<p align="justify">Agar bahasan kita tidak berpanjang-panjang, ini  sajalah dulu yang dapat dilemparkan ke khalayak. Tentunya masih  diperlukan berjilid-jilid halaman untuk membicarakan semua hal tentang  pelestarian Baduy. Nah, kembali kepada  pertanyaan yang menjadi judul  tulisan ini, Melestarikan Baduy, apakah membiarkan anak-anak Baduy tidak  bersekolah?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress/2011/06/172/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saatnya  Baduy Bicara</title>
		<link>http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress/2010/10/saatnya-bicara-baduy/</link>
		<comments>http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress/2010/10/saatnya-bicara-baduy/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Oct 2010 23:51:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Luthfi Tubagus Rifki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manusia Kanekes]]></category>
		<category><![CDATA[Baduy]]></category>
		<category><![CDATA[Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Bicara]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Saatnya]]></category>
		<category><![CDATA[Salakanagara]]></category>
		<category><![CDATA[Tarumanagara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Image by Getty Images via @daylife Membaca buku &#8220;Saatnya Baduy Bicara&#8221; yang baru saja diluncurkan bulan ini, Oktober 2010, saya mendapat kesan yang luar biasa tentang  paradigma &#8216;berpikir&#8217; para pemimpin, yang lebih di kenal dengan sebutan Jaro dan pemimpin puncaknya &#8216;Puun.&#8217; Pak Asep Kurnia, penulis buku ini, sanggup dengan bahasa yang mengalir, enak dibaca, menyuguhkan &#8230; <a class="read-excerpt" href="http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress/2010/10/saatnya-bicara-baduy/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="zemanta-img" style="margin: 1em; display: block;">
<div>
<dl class="wp-caption alignright" style="width: 160px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://www.daylife.com/image/0a6F49G7sXddk?utm_source=zemanta&amp;utm_medium=p&amp;utm_content=0a6F49G7sXddk&amp;utm_campaign=z1"><img title="BANTEN, INDONESIA - FEBRUARY 06:  Two women of..." src="http://cache.daylife.com/imageserve/0a6F49G7sXddk/150x100.jpg" alt="BANTEN, INDONESIA - FEBRUARY 06:  Two women of..." width="150" height="100" /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd zemanta-img-attribution" style="font-size: 0.8em;">Image by <a href="http://www.daylife.com/source/Getty_Images">Getty Images</a> via <a href="http://www.daylife.com">@daylife</a></dd>
</dl>
</div>
</div>
<p align="justify">Membaca buku &#8220;Saatnya <a class="zem_slink" title="Baduy" rel="wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Baduy">Baduy</a> Bicara&#8221; yang baru saja diluncurkan bulan ini, Oktober 2010, saya mendapat kesan yang luar biasa tentang  paradigma &#8216;berpikir&#8217; para pemimpin, yang lebih di kenal dengan sebutan Jaro dan  pemimpin puncaknya &#8216;Puun.&#8217; Pak Asep Kurnia, penulis buku ini, sanggup dengan bahasa yang mengalir, enak dibaca, menyuguhkan bagaimana &#8216;strategi budaya&#8217; para pemimpin Baduy dalam menghadapi dinamika perubahan sosial baik di luar, ataupun di  dalam masyarakat Baduy itu sendiri. Banyak sekali percakapan-percakapan dipaparkan dalam bahasa aslinya (Sunda.) Dengan demikian, bagi pembaca lokal yang memahami bahasa &#8216;ibu&#8217; Sunda dialek <a class="zem_slink" title="Banten" rel="geolocation" href="http://maps.google.com/maps?ll=-6.5,106.25&amp;spn=1.0,1.0&amp;q=-6.5,106.25%20%28Banten%29&amp;t=h">Banten</a>, paparan ini lebih membantu memahami &#8216;situasi  batin&#8217; kegelisahan para Jaro.  Meskipun, barangkali teks bahasanya sudah mengalami pengeditan oleh Pak Asep Kurnia sendiri, sehingga bercampur dengan dialek &#8216;<a class="zem_slink" title="Sukabumi" rel="geolocation" href="http://maps.google.com/maps?ll=-6.9196,106.9272&amp;spn=0.1,0.1&amp;q=-6.9196,106.9272%20%28Sukabumi%29&amp;t=h">Sukabumi</a>&#8216; atau bahasa Sundanya lebih &#8216;nyakola.&#8217; (Pak Asep, asli Sukabumi yang  sudah puluhan tahun  berada dilingkungan Baduy, sebagai guru di Leuwidamar, kecamatan tempat Baduy berada, Kabupaten Lebak Banten.)</p>
<p align="justify">Paradigma seperti apa? Masyarakat Baduy menyambut perubahan jaman dengan <em><strong>mempersilahkan warganya memperoleh pendidikan</strong></em>. Inilah catatan yang luar biasa<em><strong>.</strong></em> Meski dalam buku itu disebutkan angka 90%  anak-anak Baduy tidak mengikuti sekolah formal, telah banyak usaha-usaha yang dilalukan warga Baduy yang dimotori oleh &#8216;pejuang-pejuang&#8217; Baduy dari luar Baduy, agar mereka bisa membaca. Ijin sekolah inipun tentunya dengan catatan, <em><strong> selama tidak melanggar aturan adat.</strong></em> Nah, ini dia, yang menjadi peer para stakeholder Banten untuk menemukan metoda yang tepat dalam mendekati &#8216;Baduy.&#8217; Penulis buku ini sangat yakin bahwa masyarakat Baduy juga &#8216;berkeinginan&#8217; bisa  seperti saudara-saudara mereka yang lainya, bisa membaca. Pak Asep seperti membukakan pintu, silahkan masuk dan jangan lupa anda sedang bertamu di rumah orang, ikuti tata-krama di rumah ini. Bisa jadi sekolah di Baduy tidaklah sama dengan  sekolah di Leuwidamar (luar Baduy,) namun mereka mendapatkan pengetahuan yang perlu bagi kehidupan masyarakatnya dengan <em><strong>tanpa &#8216;melanggar&#8217; adat</strong></em>.</p>
<p align="justify">Saya tidak bermaksud sedang meresensi buku &#8216;Saatnya Baduy Bicara&#8217; ini, namun ingin mengabarkan pula kepada khalayak karena kegembiraan saya menyambut karya tentang Baduy. Buku setebal 294 halaman ini menambah khasanah  literatur tentang Baduy. Baduy memang seperti gadis cantik pemalu, yang mengurung diri di kamar. Sehingga banyaklah yang datang untuk &#8216;memuaskan&#8217; rasa penasaran, secantik apakah gerangan gadis ini, siapakah dia?</p>
<p align="justify">Inti jagat memang penuh misteri sejak dahulu dan akan tetap menjadi misteri. Mengapa kita bertanya dan mempermasalahkan siapa, darimana orang Baduy itu? Lihatlah, dengan kesahajaannya para pemimpin Baduy sudah membuktikan  selama berabad-abad, sejak sebelum kerajaan <a class="zem_slink" title="Salakanagara" rel="wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Salakanagara">Salakanagara</a>, melewati <a class="zem_slink" title="Sunda Kingdom" rel="wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sunda_Kingdom">Pajajaran</a>, <a class="zem_slink" title="Tarumanagara" rel="wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Tarumanagara">Tarumanagara</a>, Kesultanan Banten, Kolonial Belanda dan saat ini di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indoneisa, bahwa dengan &#8216;Pikukuh&#8217; mereka sanggup membawa  rakyatnya melayari sejarah tanpa konflik yang vulgar, tanpa kekerasan, apalagi pembunuhan, penghilangan nyawa, dan tentu saja tanpa korupsi. Bapak Imam Prasojo selayaknya memberi saran kepada para wakil rakyat di Senanyan, agar mereka tak  perlu jauh-jauh belajar etika ke <a class="zem_slink" title="Unani" rel="wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Unani">Yunani</a>. Mampirlah di Baduy, Desa Kanekes, Banten, <a class="zem_slink" title="Indonesia" rel="geolocation" href="http://maps.google.com/maps?ll=-6.175,106.828333333&amp;spn=10.0,10.0&amp;q=-6.175,106.828333333%20%28Indonesia%29&amp;t=h">Indonesia</a>.</p>
<dl class="wp-caption alignright" style="width: 190px;">
<dt class="wp-caption-dt"><img title="Saatnya Baduy Bicara" src="http://visitbaduyvillage.com/images/stories/sbb-200x400.jpg" alt="Cover Buku Saatnya Baduy Bicara" width="180" height="266" /></dt>
</dl>
<p align="justify">Kembali ke buku kita &#8216;Saatnya Baduy Bicara.&#8217; Maka mari, inipun adalah &#8216;Saatnya Bicara Baduy.&#8217; Tanpa Kitab Agama, kita disuguhi pelajaran hidup tentang bagaimana manusia belajar dalam harmoni dengan alam dan sesamanya.  Membaca buku ini, seperti pergi <strong>Saba Budaya Baduy</strong>, tapi sebelumnya kita mampir dulu ke kantor gubernur, kantor bupati dan kantor Kecamatan disuguhi data-data, angka-angka tentang jumlah posyandu, angka melek huruf, demografi penduduk dan  data statistik lainya. Data ini up-to-date dan tentunya sangat bermanfaat sekali, terutama bagi mahasiswa sosiologi atau kependudukan atau pemerintahan yang tengah mencari bahan untuk skripsi. Jangan lupa, meski masyarakat Baduy &#8216;tidak  bersekolah&#8217; namun mereka sudah melahirkan sarjana-sarjana, S1, S2, S3 baik lokal atau pun global. Banyak disertasi doktor tentang Baduy. Dan satu lagi, Baduylah pula yang melahirkan kesarjanaan salah satu penulis buku ini, Dr. Ahmad  Sihabudin, M.Si (beliau Dekan FISIP Untirta Serang.) Anda percaya?</p>
<p align="justify">Begitulah, masih banyak misteri Baduy yang bisa kita ceritakan. <strong>Saatnya Bicara Baduy</strong>.</p>
<div class="zemanta-pixie" style="margin-top: 10px; height: 15px;"><a class="zemanta-pixie-a" title="Enhanced by Zemanta" href="http://www.zemanta.com/"><img class="zemanta-pixie-img" style="border: medium none; float: right;" src="http://img.zemanta.com/zemified_e.png?x-id=7a14a765-77ea-494b-90d6-4f2e1f7eef60" alt="Enhanced by Zemanta" /></a><span class="zem-script more-related pretty-attribution"><script src="http://static.zemanta.com/readside/loader.js" type="text/javascript"></script></span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress/2010/10/saatnya-bicara-baduy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bencana Alam Wasior</title>
		<link>http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress/2010/10/bencana-alam-wasior/</link>
		<comments>http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress/2010/10/bencana-alam-wasior/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Oct 2010 07:48:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Luthfi Tubagus Rifki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini Indonesia menangis kembali karena musibah yang menimpa hampir seluruh kota Wasior, Papua Barat.Sampai hari Jumat (08/10/2010) diberitakan di media elektronik jumlah meninggal telah terhitung lebih dari seratus orang.  Betapa mengenaskan melihat gambar yang ditayangkan televisi, air bah yang tanpa ampun menggilas apapun yang menghadang.  Lebih dari 4.500 warga mengusi ke kota-kota terdekat. Begitulah, &#8230; <a class="read-excerpt" href="http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress/2010/10/bencana-alam-wasior/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hari ini Indonesia menangis kembali karena musibah yang menimpa hampir seluruh kota Wasior, Papua Barat.Sampai hari Jumat (08/10/2010) diberitakan di media elektronik jumlah meninggal telah terhitung lebih dari seratus orang.  Betapa mengenaskan melihat gambar yang ditayangkan televisi, air bah yang tanpa ampun menggilas apapun yang menghadang.  Lebih dari 4.500 warga mengusi ke kota-kota terdekat.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah, kita semua diingatkan alam agar selalu bersikap bersahabat dengannya dengan tidak semena-mena merusak dan membabat pohon-pohon yang ada di hutan. Begitulah pula, Adat Kanekes yang turun-temurun berabad-abad dipegang teguh oleh seluruh rakyat Kanekes, melarang perusakan hutan. &#8220;<em><strong>Gunung ulah dilebur, Lebak ulah dirusak.&#8221;</strong></em> Tabu yang satu ini menggema di hati yang paling dalam pada setiap dada Manusia Kanekes, yang lugu tidak bisa baca tulis.  Mereka melaksanakan titah itu dengan baik tanpa bertanya mengapa.</p>
<p style="text-align: justify;">Apapun penyebab antara bencana banjir, longsor  dan air bah tentunya harus sanggup menyadarkan kita semua betapa keserakahan kita ataukah kedunguan kita yang kita biarkan merayapi hati kita masing-masing? Meskipun kita merasa diri lebih beradab dari Manusia Kanekes hanya karena kita bisa membaca dan menulis, tak perlu malu kita belajar dari Manusia Kanekes tentang kearifan agar kita tidak merusak alam kita sendiri tempat kita berpijak dan menghidupi diri.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 614px"><a href="http://visitbaduyvillage.com/baduy-galleries"><img title="Permainan anak-anak Kanekes" src="http://visitbaduyvillage.com/images/stories/erin/baduy-erin003.jpg" alt="Bermain -- Anak-anak Kanekes" width="604" height="406" /></a><p class="wp-caption-text">Bermain -- Anak-anak Kanekes</p></div>
<h6 class="zemanta-related-title" style="font-size: 1em;">Related articles</h6>
<ul class="zemanta-article-ul">
<li class="zemanta-article-ul-li"><a href="http://www10.nytimes.com/aponline/2010/10/04/world/asia/AP-AS-Indonesia-Flash-Floods.html?_r=5">Flash Floods in Eastern Indonesia Kill at Least 26</a> (nytimes.com)</li>
</ul>
<div class="zemanta-pixie" style="margin-top: 10px; height: 15px;"><a class="zemanta-pixie-a" title="Enhanced by Zemanta" href="http://www.zemanta.com/"><img class="zemanta-pixie-img" style="border: medium none; float: right;" src="http://img.zemanta.com/zemified_e.png?x-id=c6a39aa8-cda0-4b03-9b82-60034c3ca319" alt="Enhanced by Zemanta" /></a><span class="zem-script more-related pretty-attribution"><script src="http://static.zemanta.com/readside/loader.js" type="text/javascript"></script></span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress/2010/10/bencana-alam-wasior/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENJAGA KEMURNIAN TANGTU</title>
		<link>http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress/2010/07/menjaga-kemurnian-tangtu/</link>
		<comments>http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress/2010/07/menjaga-kemurnian-tangtu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 07:45:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erin Cipta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[cibeo]]></category>
		<category><![CDATA[cikartawana]]></category>
		<category><![CDATA[cikeusik]]></category>
		<category><![CDATA[tangtu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang yang datang maupun yang hanya mendengar tentang Baduy atau Kanekes tentu sudah tahu bahwa orang Kanekes, Tangtu (Baduy Dalam) khususnya, sangat menjaga teguh adat mereka. Tahukah anda bahwa yang mereka jaga bukan hanya adat, melainkan juga kemurnian darah dan segala keaslian aspek hidup mereka. Coba simak hal berikut: Urang Tangtu selalu menikah dengan &#8230; <a class="read-excerpt" href="http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress/2010/07/menjaga-kemurnian-tangtu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Banyak orang yang datang maupun yang hanya mendengar tentang Baduy atau Kanekes tentu sudah tahu bahwa orang Kanekes, <em>Tangtu</em> (Baduy Dalam) khususnya, sangat menjaga teguh adat mereka. Tahukah anda bahwa yang mereka jaga bukan hanya adat, melainkan juga kemurnian darah dan segala keaslian aspek hidup mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Coba simak hal berikut:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Urang Tangtu</em> selalu menikah dengan sesama <em>Urang Tangtu</em>. Yaitu mereka yang tinggal di 3 kampung dalam (Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik). Bila salah satu dari mereka menikah dengan orang dari Panamping (Baduy Luar) maka <em>Urang Tangtu</em> itu harus keluar dari kampung Baduy Dalam. Walaupun yang <em>Tangtu</em> adalah lelakinya. Dengan begitu darah <em>Tangtu</em> tidak akan bisa dimasuki darah Panamping, apalagi yang bukan <em>Urang Kanekes</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka di Baduy banyak perkawinan yang masih terlalu dekat ikatan kekeluargaannya. Beberapa keturunan mereka menanggung akibat perkawinan sedarah itu; badan kerdil, daya tahan tubuh lemah, bahkan beberapa tidak berketurunan. Untuk penjelasan medisnya saya tidak bisa menguraikannya, karena saya bukan ahlinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pohon singkong, pohon albasia, dan beberapa pohon tidak dibolehkan ditanam di Baduy Dalam. Karena pohon-pohon itu bukan asli tanaman yang ada sejak dulu. Apabila pohon tersebut tumbuh tanpa sengaja ditanam, maka orang <em>Tangtu</em> akan mencabutnya. Kalau tidak salah, bahkan ada petugas pengawas tanaman dari <em>“Baresan Salapan”</em> atau penegak adat di bawah Puun yang selalu mengoperasi tanaman-tanaman di 3 kampung <em>Tangtu</em> itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Darah dan tanaman dari luar saja tidak diperbolehkan masuk, apalagi benda-benda ciptaan manusia yang tidak menyatu dengan alam <em>Tangtu</em>, misalnya radio.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari saya bertemu seorang kawan dari kampung Cibeo yang tiba-tiba saya temui di kampung luar dengan pakaian jamang kampret dan ikat kepala hitam. Lho, bukannya orang Tangtu memakai baju pangsi dan ikat kepala putih? Ah, ternyata dia memang sudah keluar dari Baduy Dalam, tepatnya dikeluarkan, karena melangar adat, yaitu menjual rumahnya. Menjual padi juga merupakan pelanggaran. Untuk dua hal diatas, pengetahuan saya masih samar-samar. Saya belum tahu persis alasannya mengapa dua hal tersebut dilarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Pesona Tangtu adalah keasliannya. Saya tidak berniat untuk bertanya mengapa-ini-itu-tidak-boleh. Saya bersyukur selalu diterima dengan baik dan ramah di kampung Baduy Dalam. Lagi pula, saya selalu senang menatap wajah-wajah ramah orang <em>Tangtu</em>. Kulit para gadisnya yang putih merona, selalu tersipu-sipu jika bertemu orang. Tatapan teduh para lelakinya, dan senyum kecil tertahan yang selalu membuat saya merasa aman berjalan beriringan dengan mereka, di tengah hutan sekalipun.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 614px"><a href="http://visitbaduyvillage.com/baduy-galleries"><img title="Anak-anak Baduy" src="http://visitbaduyvillage.com/images/stories/erin/baduy-erin004.jpg" alt="Bermain di Halaman" width="604" height="401" /></a><p class="wp-caption-text">Bermain di Halaman</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress/2010/07/menjaga-kemurnian-tangtu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Arif dari Kanekes</title>
		<link>http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress/2010/07/belajar-arif-dari-kanekes/</link>
		<comments>http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress/2010/07/belajar-arif-dari-kanekes/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 01:33:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Erin Cipta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manusia Kanekes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[PANJANG TAK BOLEH DIPOTONG, PENDEK TAK BOLEH DISAMBUNG Mudah sekali mengartikan petuah di atas. Hiduplah apa adanya. Itulah yang dari dulu, dan sampai saat ini masih dipegang erat oleh sekelompok masyarakat di daerah Banten Selatan. Mereka adalah warga Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Atau lebih mudah kebanyakan orang menyebut mereka Orang Baduy. Tahun &#8230; <a class="read-excerpt" href="http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress/2010/07/belajar-arif-dari-kanekes/">Continue reading <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>PANJANG TAK BOLEH DIPOTONG, PENDEK TAK BOLEH DISAMBUNG</em></p></blockquote>
<p style="text-align: left;">Mudah sekali mengartikan petuah di atas. Hiduplah apa adanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah yang dari dulu, dan sampai saat ini masih  dipegang erat oleh sekelompok masyarakat di daerah <a class="zem_slink" title="Banten" rel="geolocation" href="http://maps.google.com/maps?ll=-6.5,106.25&amp;spn=1.0,1.0&amp;q=-6.5,106.25%20%28Banten%29&amp;t=h">Banten</a> Selatan.  Mereka adalah warga Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak,  Banten. Atau lebih mudah kebanyakan orang menyebut mereka Orang <a class="zem_slink" title="Baduy" rel="wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Baduy">Baduy</a>.</p>
<p style="text-align: justify;">Tahun 1997 adalah interaksi pertama saya dengan  mereka. Pak Utun Leman Kartakusuma, fotografer harian Suara Pembaruan  (Sinar Harapan) dan Don Hasman, fotografer tabloid Mutiara yang pertama  kali mengenalkan saya pada <em>Urang Kanekes</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari pertama kali saya bertemu dan merasakan kehidupan <em>Urang Kanekes</em>, terutama <em>Urang Tangtu</em> (Baduy Dalam), saya sudah merasakan kehidupan yang begitu bersatu  bersenyawa dengan alam. Mereka hidup untuk menjaga alam, bukan sekedar  memanfaatkan apalagi menguras apa yang alam punya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ciri paling menonjol dari mereka adalah pakaian mereka yang hanya terdiri atas baju <em>pangsi</em> putih atau hitam, sarung <em>aros </em>hitam, dan ikat kepala putih, serta tanpa alas kaki. Kerap mereka menyandang kantong kain, tas <em>jaro</em> atau <em>koja</em> dari bahan kulit kayu saat mereka bepergian. Mereka selalu bepergian  dengan berjalan kaki. Pantang bagi mereka untuk naik kendaraan. Mereka  membiarkan kulit kaki mereka merasakan keras, basah, dingin, dan  panasnya tanah yang menghidupi mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Masuk ke perkampungan Baduy Dalam ( Cibeo,  Cikartawana, dan Cikeusik) adalah masuk ke tempat penuh kedamaian.  Kampung yang tertata natural, tenang, dan bersih. Rumah-rumah mereka  adalah rumah panggung bermaterial bambu dan kayu beratap rumbia. Mereka  bukan memakai paku, melainkan hanya pasak dan tali untuk menyatukan  tiang dan dinding. Dan kontur tanah tempat rumah itu berdiri semuanya  utuh. Bila kebetulan sebuah rumah harus berdiri di tanah yang tidak  rata, maka bukan tanahnya yang mereka cangkuli untuk diratakan, tapi  tiang panggungnya yang dibuat tinggi pendek menyesuaikan kontur tanah  aslinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk hidup mereka bertani. Menanam padi ladang  dengan cara yang sangat sederhana. Tanpa mencangkul ataupun memupuk.  Mereka hanya mempersiapkan lahan dengan cara membersihkan, membakar  rumput, mengistirahatkan, dan menabur bibit padi begitu saja. Tanah yang  mereka perlakukan dengan sangat lembut itu memang selalu memberikan  hasil yang cukup. Orang Baduy tidak pernah kekurangan padi untuk makan  mereka sehari-hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Air untuk konsumsi dan sanitasi mereka ambil dari  sungai, atau mata air yang mereka salurkan dengan batang-batang bambu.  Sungai dan mata air di Baduy Dalam masih sangat bersih karena mereka  tidak pernah mengotorinya dengan detergen dan bahan buatan pabrik.  “Sabun” yang mereka pakai adalah Lerak, gigi mereka sikat dengan batang  Honje (semacam lengkuas).</p>
<p style="text-align: justify;">Saat malam datang, mereka menggunakan penerangan  dengan lentera minyak kelapa, bukan minyak tanah. Nyatanya memang asap  yang dihasilkan dari lentera minyak kelapa lebih sedikit dibanding  lentera minyak tanah. Tidak ada barang elektronik di <a class="zem_slink" title="Village" rel="wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Village">kampung</a> itu. Senyap  dan damai sangat terasa saat malam. Sayup-sayup musik hanya terdengar  sesekali dari petikan lirih kecapi dan tiupan seruling. Enam bulan  sekali baru ada musik yang sedikit hingar dari <em>angklung buhun</em> yang mereka keluarkan dan mainkan pada musim tanam padi.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa mereka hidup begitu bersahaja? Karena mereka yakin bahwa <em>“panceur bumi”</em> atau pusat bumi ada di tanah mereka, dan mereka diutus Tuhan Yang Maha  Esa untuk menjaga keutuhan dan kelestarian tanah mereka untuk  kelangsungan hidup orang banyak, bukan hanya yang tinggal di kampung itu  saja. Hutan Larangan yang ada di tengah desa, pantang mereka tebang  pohonnya. Jangankan tebang pohon, ambil kayu atau daunnya pun sama  sekali tidak mereka lakukan. Di hutan itulah terdapat mata air  sungai-sungai yang mengalir ke desa mereka, bahkan sampai ke luar desa.  Keyakinan mereka telah menyelamatkan satu titik sumber kehidupan.</p>
<p style="text-align: justify;">Anda bisa bayangkan seandainya lebih banyak  kelompok masyarakat yang berkeyakinan dan berperilaku seperti mereka.  Niscaya bumi ini akan semakin hijau.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu semua hanya sedikit dari sekian banyak perilaku  hidup Urang Kanekes yang begitu menghargai alam, namun banyak sekali  pelajaran yang sudah saya dapatkan. Mereka adalah guru saya untuk  mencintai alam, guru saya untuk bagaimana saya memperlakukan alam, guru  saya untuk tidak semena-mena terhadap alam yang mengidupi kita. Puluhan  kali berkunjung ke sana tidak membuat saya bosan merasakan kedamaian  hidup di tanah dan masyarakat yang begitu bersatu dengan alam.  Berkunjung ke Kanekes adalah bercermin dan introspeksi diri, bagaimana  saya sehari-hari berperilaku dan berhubungan dengan alam.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama sekali saya belum berkunjung kembali ke sana.  Nanti saat anak-anak saya sudah mulai besar, saya akan ajak mereka  merasakan tempat yang membuat bunda mereka merasakan damai bersatu  dengan alam. Saya jatuh cinta pada tanah Kanekes.</p>
<div class="zemanta-pixie" style="margin-top: 10px; height: 15px;"><a class="zemanta-pixie-a" title="Enhanced by Zemanta" href="http://www.zemanta.com/"><img class="zemanta-pixie-img" style="border: medium none; float: right;" src="http://img.zemanta.com/zemified_e.png?x-id=c8c07f65-0deb-421b-851f-ac9f02bb314c" alt="Enhanced by Zemanta" /></a><span class="zem-script more-related pretty-attribution"><script src="http://static.zemanta.com/readside/loader.js" type="text/javascript"></script></span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://visitbaduyvillage.com/baduyblog/wordpress/2010/07/belajar-arif-dari-kanekes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

